Wednesday, November 11, 2009

A Wise Man Said...

A dear friend is in grief. Kaka tersayangnya harus cerai dari suaminya karena si suami selingkuh. Temenku & keluarganya bener-bener terpukul & sedih banget. Mereka bener-bener ngga nyangka bahwa keluarga mereka sampe harus ada yang pisah kaya gitu. Tapi dengan bijak, suami temenku menimpali. And I quote:

“Nah itu salahnya.. Perpisahan itu sesuatu yang mutlak akan terjadi. Penyebabnya cuma 2, meninggal dan cerai. Harusnya kita bisa mikir bahwa sesuatu bisa terjadi, termasuk perceraian. Kalo kita mikir gitu, insya Allah kita akan selalu berusaha menghindari kesalahan sekecil apapun. Sehingga kesalahan yang ada ngga numpuk dan akhirnya muntah sehingga terjadi perceraian.”

Denger kalimat ini, terus terang aku ternganga :D Terpesona abisss... Apalagi mengingat setelan suami temenku ini hihihi... Personally, I think it was very well said. Nobody said marriage is easy & obviously, nobody can predict what would or could happen in the future. All we could do is being the best spouse one should deserve. Treat the other half the way you want to be treated. Setelah itu, akan selalu ada 2 ending. Happily ever after or fucked up in the middle of the journey.

Temenku bilang, susah ya jadi suami-istri jaman sekarang. Banyak banget godaan & cobaannya. Batasan antar temen lain jenis semakin samar. Sun-sunan & panggilan Sayang-Cantik-Ganteng-Sexy-Babe begitu murah diobral. Bikin ngeles jadi gampang, kalo ke-gep sama pasangan lagi imel-imelan ato chatting pake embel-embel “Cantik” ato “Baby”. “Ah, itu kan cuma becandaan antar temen aja. Sama yang lain juga aku gitu!”, kata si tukang selingkuh. Pasangannya cuma bisa sedih sendiri. Emang bener juga sih... Tapi itu juga artinya setiap kali panggilan sayang itu ditujukan buat dia, jadi ngga spesial sama sekali... Belom lagi soal pelukan. Asik-asik aja gitu meluk suami/istri orang. Alasannya kalo ngga lagi mabok, ya biar dibilang gaul & akrab. Ngga kepikir sama sekali gimana perasaan pasangan masing-masing di luar sana. Yang dipeluk sama aja. Ngelesnya ngga enak nanti kalo nolak ato emang doyan. Padahal kalo kita tegas karena benar, aku rasa ngga masalah. Kalo marah, ya emang dianya aja yang edan :p Dan kaya masalah masih kurang banyak, ada lagi satu yang selalu menghantui: masalah M A N T A N.

Aku bilang... Lillahi ta'ala aja... Kalo ngga, bisa sakit jiwa :)


Sunday, October 25, 2009

Word In Progress - 1

  • Apa
  • Bapa
  • Syapa
  • Bu
  • Buku
  • Yaya (Buaya)
  • Bebe (Blackberry)
  • Nenen
  • Mamam
  • Mimi
  • Gigi
  • Bebi
  • Kaka
-Kukka, 15 mos

Saturday, October 17, 2009

Neverending Problem: MANTAN

Sedikit disingkat ceritanya, temenku. Si Wati, ngebikinin account Facebook untuk suaminya, Si Budi. For some reason, Wati nge-set supaya semua notification yang masuk untuk suaminya masuk ke e-mail di Blackberry-nya dia. So, she knows everything from photo comments to messages in her hubby’s FB inbox. Nothing harmful. Her hubby seemed to enjoy facebooking.

Until one day Wati received a message. Well, actually her husband’s received it. My friend just had the chance to read it before he does :D Message itu dari mantannya Budi waktu SMA. Wati pernah ketemu & dikenalin. Tapi ya sebatas itu aja. Trus ngga pernah ada kelanjutannya karena Budi juga ngga pernah ketemu lagi. Tau darimana? Dari isi message si mantan, of course :) “Hi Budi! Kemana aja? Apa kabar?”

Dibaleslah sama Si Budi, yang ngga tau bahwa di ujung sana Wati lagi deg-degan :D One message lead to another. Si Mantan, kita sebut aja namanya Susi :D, makin rajin nge-message. Kata Wati sih yang diobrolin gitu-gitu aja. Dan yang bikin Wati sedikit lega juga tanggapan Budi yang biasa aja. FYI Susi ini menyebut dirinya dengan “aku” & nge-refer suaminya Wati dengan “Budi”. “Budi nanti ikut reuni ngga? Aku mau dateng juga”, contohnya. Nah, Wati lega bahwa suaminya ngga ikut-ikutan ber-aku-aku, yang I admit it is disturbing when your other half is one of those people. Oh and yes, Budi ikutan reuni. Dan apparently so was this chick. Wati tau karena abis reuni, Susi nge-message lagi. “Budi kemaren pulang jam berapa? Aku pulang duluan.” Sama Budi ngga dibales. Sibuk kali ya :)

Nah tapiiii...ada beberapa message-nya Susi yang langsung di-delete Wati SEBELUM dibaca sama Budi. Why? Karena menurut Wati, isinya “berbahaya” & bisa menjurus ke hal-hal yang ngga diinginkan. Kaya minta nomor teleponnya Budi, salah satunya. Untuk mengenal “lawannya”, mulailah Wati ngelacak Susi lewat FB :D “Kayanya dia bermasalah deh sama keluarganya. Ngga ada foto anak, suami. Isinya foto dugem semua sama dia pake baju-baju sexy.”, laporan Wati pagi tadi. And then she asked me if she’s being irrational & paranoid.

Hmm... Sesaat aku ngerasa bukan orang yang tepat untuk dimintain pendapat masalah mantan or jealousy. Scara di sini juga jealous-an, parnoan & bermasalah dengan hubungan suami & para mantannya :))) Takutnya ngasih komen yang subyektif & provokatif hihihih...! But I told her this:

It’s okay to feel what you’re feeling right now. It’s totally normal. You should be cautious coz we never know what’s going to happen. And many times, it’s the other woman who’s causing this commotion. While your beloved is being the best spouse you could ever wish for. But becoz of this chick, you could end up having an unnecessary fight with your beloved. Next thing you know, the thing you feared most is happening. You do have the ability to do your best to prevent the things you don’t want to happen. But deleting his messages is certainly not one of them :) If Budi happens to find out what you did, don’t you think he would be furious? Right now you have this “luxury” to know almost everything Budi is doing in his FB account. Don’t be greedy :) See what will happen from there. Insya Allah nothing will :)

My dear friend agreed. She also said, reading those messages made her love Budi even more. She immediately called Budi & asked him for a dinner date while we were chatting :) I told her funny how things in relationship work, eh... It’s sad that we have to feel treatened of losing first to appreaciate the people that we love.

Now, FYI i wrote this becoz Wati requested me to do it. She wanted your opinions about her problem. So please be kind & share your thoughts ya... On behalf of Wati, I thank you in advance :)


Thursday, October 15, 2009

Are You My Friend?

How do you define a friend?

Is it someone who always spends time & hang out with you? Is it someone whom you always call when you need a shoulder to cry on or if you simply need a friend to go lunch with? Is it someone who knows all your dark secrets? Is he the first person you buzz/ping after your significant other? Can you pour your heart out without filtering anything or afraid that she might judge you? Is it someone whom you’ve been together with for a long time thru thick & thin?

What are the rules if you want to be somebody’s friend?

Do you have to call him everyday? Do you have to update her with every bits of your daily life? Do you have to go shopping or see every chick flick together? Are you allowed to say “Go to hell!” or “Fuck you!” once in awhile & 5 minutes later you have coffee together? Do you need to put your mask on? Or can you stand in front of her completely nude? And if you couldn’t do all those things, are the two/three/four of you still considered as friends?

I’ve learned that best friends stab each other's back.
I’ve learned that you do have to wear a mask & watch every word that’s coming out of your mouth.
I’ve learned that jealousy is well hidden behind warm hugs.

I’ve learned that ironically, a best friend can be the one who’s most judgmental.
I’ve learned that promises are broken with a carefree smile.
I’ve learned that secrets are shared to those who are not supposed to know.
I’ve learned that you can’t be your complete self with your so-called friend.
I’ve learned that the amount of time you’ve spend together with him doesn’t have anything to do with the relationship.

Because I’ve also learned that a total stranger can become a “true” friend in a heartbeat.


Monday, October 12, 2009

The Day I Cried

Hari ini aku nangis. Nangis sejadi-jadinya. Di depan anakku yang tadinya lagi ketawa-ketawa. Ekspresinya berubah jadi muka penuh tanda tanya. Aku peluk dia & nangis lebih keras lagi.

Hari ini hari kedua Kukka nolak disusuin. Pas aku buka-bukaan sih mukanya hepi banget. Sambil ajrut-ajrutan di kasur, tepuk tangan dll. Tapi begitu aku deketin ke mulutnya, Kukka cuma cengar-cengir lebar. Biasanya dia langsung nyamber. Ini malah diliatin, dipegang-pegang, dijilat dikit-dikit (tau dong yang aku maksud apa? :p). Trus Kukka ketawa-ketawa geli sambil memicingkan mata trus mulutnya ditutup pake 2 tangannya. Mimik mukanya ngeledek trus dia pergi.

Laaaaaaaaaaah???? Apa-apaan iniiiii????? Kemaren juga kejadiannya persis kaya gitu. Tapi aku masih cuek meskipun agak heran juga. Seharian dia ngga nagih disusuin. Nah, hari ini bener-bener nunjukkin bahwa dia ngga mau nyusu. Malah ketawa-ketawa menjauh. BuSYeeeeeeeeet udah seperempat bugil begini ditolaaaaak!

Huaaaaaahuhuhuhuuuuu!!!! :(( This is probably the saddest day of my life! *hiberbola* Ngeliat ibunya nangis, Kukka langsung nyamperin. She looked at me straight in the eyes dengan mimik serius (I should’ve took a pic of it!), Kukka bilang “Apa? Apa? babyblabberbabyblabberbabyblabber”. Ngga kuat juga nahan ketawa :D I hugged her & asked “Kukka kenapa ngga mau nyusu? Is it because you’re a big girl now? Coz if you are, give Ibu some time to prepare mentally ya?” Altho I know I will never be mentally ready to see my baby growing up :D She stared at me. And then she said seriously “babyblabberbabyblabber”. Aku ngangguk “Oke, oke.” aja. Abis gitu aku ditinggal keluar kamar :))

I remember waktu itu pernah berencana menyapih Kukka kalo dia udah setaun. Tapi sampe 15 bulan kurang seminggu, Kukka tetep aku susuin meskipun frekuensinya berkurang. Lah, sekarang malah aku yang disapih sama Kukka :))) Talk about irony!

Insya Allah hari ini & besok aku masih mau usaha nawarin lagi. Syukur-syukur Kukka masih mau karena sebenernya aku pengen nyusuin sampe dia 2 tahun. Tapi kalo nanti dia nolak juga, yaaa....apa boleh buat. I’ll be heartbroken, of course. But I guess I should be grateful since I’ve succeeded to breastfeed Kukka for more than a year. Alhamdulillah :)


Sunday, October 04, 2009

Surviving Chickenpox

Kaget juga Kukka dibilang kena cacar air. She's only 14 months. I always thought cacar air itu penyakit anak TK ato SD (eventho aku sendiri kenanya pas jaman kuliah :D). I went to 2 pediatricians. Dua-duanya bilang Kukka positif kena cacar air. Kemungkinan ketularannya pas lebaran. Untungnya 2 bulan sebelumnya Kukka udah divaksin Varicella. Jadi kenanya ngga terlalu parah. In fact, the spots didn't look like chickenpox at all...

Berawal dari daya tahan tubuhnya menurun karena ibu dan bapanya kena pilek. Sedikit-sedikit Kukka mulai ketularan. Bersin, idung meler. Lama-lama badannya anget. Dikasih obat penurun panas & obat pilek. Tapi suatu pagi pas bangun tidur suhunya 38.1C. I saw a couple of red blisters yang mirip insect bites. Sekelilingnya merah trus tengahnya ada bump merah kecil. I counted them all to see whether they'd multiplied or not. Abis mandi sore aku cek lagi. Yes, they multiplied. Di dada, perut, kulit kepala, telapak kaki & beberapa di muka kaya jerawat. Sambil panik aku bawa ke RSI Bintaro karena dokternya Kukka ngga praktek sore itu. Besoknya aku bawa ke dokternya Kukka. Diagnosanya sama: cacar air. Dokter Utami Rusli bilang 2-3 ke depan blisters-nya ini akan berair & gatel banget. I waited for the bump filled with clear fluid to appear. It never came. Alhamdulillah...

Yang ada, spot-spot merahnya pada ilang. Yang "jerawat" pada mengering, ngga sampe keluar air. Kukka juga ngga pernah keliatan gatel atau lemes. Seperti biasa dia ngoceh, nari, lari, jumpalitan ajol-ajolan. Sama sekali ngga kaya anak sakit :D Padahal obatnya sengaja dikasih yang bikin ngantuk supaya bisa istirahat. Ternyata ngga ngaruh sama sekali!! Dia lebih keliatan "sakit" karena aku larang main keluar rumah daripada gara-gara chickenpox-nya :D

Today is Day 4. Mukanya udah mulus lagi. Cuma ada 1-2 spot yang kering dan belum ngeletek. Suhu tubuhnya udah normal lagi dari hari ke-2. And since Day 2, Kukka doesn't look sick at all. Bingung juga kita. Ini anak beneran sakit cacar air ato ngga sih? Kalo iya, emang bener sembuhnya secepet ini?? Emang sih, dokternya bilang karena Kukka udah divaksin, jadi dia lebih cepet sembuh. But 2 days only?? Is it possible?? Sampe sekarang Kukka masih aku larang keluar rumah. Padahal bapa dan anak udah sama-sama gatel pengen jalan-jalan :D Baeknya gimana yaa??? Should I wait sampe seminggu, ato cuek aja aku ajak nonton sirkus hari ini?? :D


UPDATE 8/10/2009

Ternyata Kukka bukan kena cacar air!! Tapi kena folliculitis. Insya Allah ngga membahayakan & menular :)


Thursday, September 10, 2009

Hati-Hati Penipuan: A True Story

Judul boleh basi, tapi isi dijamin berguna! Terutama bagi yang (berencana) jual rumah.

Semua berawal dari masang plang FOR SALE di depan rumah, lengkap dengan nomor HPku. Sabtu sore seorang ibu “Desi” telepon. Dia bilang lagi di depan rumah & tertarik sama rumah kita. I told her I wasn’t home but we could meet on Monday so I could show her around the house. She said okay, let’s make a date.

Hari Minggu kemarin jam 10:24 AM aku dapet telepon dari nomor 081280757969. Pa Arif namanya. Suaranya berwibawa, santun & sangat “islami”.

“Asswrwb. Selamat siang, bu. Kemarin istri saya, Desi, lihat rumah ibu. Kami sedang mencari rumah karena saya dipindahtugas ke Bintaro. Dijual berapa ya? Saya mau tawar harga. Siapa tahu transaksi ini membawa berkah buat Ibu & saya. Sekarang saya sedang di Surabaya tapi saya percaya dengen penilaian istri saya blablabla.”

“Oh, iya Pa! Harganya 610jt. Saya sudah janjian dengan Ibu Desi untuk lihat dalamnya.”

“Ngga perlu, bu! Istri saya sudah cocok katanya dengan lokasinya. Denahnya kurang lebih sama kan dengan rumah tetangga?”

Sambil bingung aku oper BBku ke Ica. Tawar-menawar harga is not my deparment. Yang paling bikin bingung, beli rumah ko ngga mau liat kondisi dalemnya dulu ya?

Long story short, percakapan intens terjadi antara Ica, Bapa (mertuaku) & Arif ini. Dari harga 610jt dia tawar 600jt BERSIH! Pajak pembeli, penjual, biaya notaris dll dia yang tanggung. Mau masuk bulan November. Sekarang dia mau DP 50jt. As precaution we gave him Ica’s account number yang jarang diisi. Maksudnya kalo sampe ada apa-apa, isinya “cuma” 150rb ini...

Beberapa saat kemudian si bapa itu telp Ica. Udah ditransfer katanya. 50jt udah terdebit dari rekening dia. Tapi struknya ngga keluar. Dia minta Ica ngecek ke ATM. Ternyata belom ada. Arif bilang dia mau telepon HALO BCA. Ngga lama kemudian dia telepon Ica lagi. Katanya bener udah ketransfer tapi karena struknya ngga keluar jadi ke-pending. Dia minta Ica untuk ngga nutup telepon sementara dia ngehubungin HALO BCA lagi. Ica hung up on him & BBM aku: “penipu nih!” Soon he called Ica again, asked why Ica hung up & asked him not to. As pissed as he was, Ica decided to play along.

Kedengeran suara dari speaker phone gitu: “Selamat datang di HALO BCA blablabla...” Kedengeran juga suara si Arif itu ngobrol dengan “customer service officer” BCA yang bernama Edi Junaedi. The whole conversation sounded pretty convincing kata Ica. It was something Arif said tho, which blew his cover even more. “Saya dengan Pa Arif yang tadi telepon soal blablabla” Selama nelepon customer service, berapa kali dalam sejarah bisa dapet officer yang sama??? Lalu Arif minta Ica untuk bicara langsung sama si CSO gadungan itu. Percakapan melalui telepon berubah seperti Party Call. Katanya si cso transferan “KE-PENDING” selama 2-3 hari. Kalo mau masuk ke rekening Ica, diharapkan kerjasamanya dengan si Arif edun itu. Yang dimaksud dengan "kerjasama" pastinya seputar "Bapa transfer dulu sekian rupiah ke nomor rekening ini nanti blablabla".

Meskipun Ica udah kesel banget, dia tetep ngedengerin omongan 2 makhluk nista. Later Ica said to me “Aku dengerin aja terus. Itung-itung ngabisin pulsa si tukang tipu itu. That’s the least I could do to get back at them.” :D

Moral of the story?

Penipu ada dimana-mana, malah semakin banyak. Siapapun bisa kena, tanpa kecuali. Mau bulan puasa kek, mau ngga, masa bodo. Namanya orang jahat, dia ngga akan peduli kondisi kita gimana. Yang penting bisa dapet uang. Makanya, kita mesti hati-hati banget dan jangan kalah pinter sama si penipu. Aware sama sekeliling & mau belajar tentang “proses” yang mau kita jalanin (in my case, jual-beli rumah). Se-BU apapun, coba jangan terlalu cepat tergiur dengan tawaran yang sepertinya "too good to be true". Jangan berhenti berdoa & selalu minta petunjuk-Nya. Also don’t judge a book by its cover. Si kampret ini ngomongnya santun & seperti yang aku bilang, “islami”. Oya, terus ada baiknya juga kalo ngasih nomor telepon di iklan, jangan nomor yang “aktif” kali ya? Use your CDMA number or other GSM number yang less personal. Aku nyesel banget nih dah keburu masang nomor HPku :(

Pada akhirnya, kalo merasa semua udah dijalanin, pasrah & ikhlas. Dalam kasus ini, aku bersyukur & berterimakasih sama Allah karena selama ini selalu dilindungi & dihindari dari orang-orang yang jahat. Insya Allah, kamu juga selalu berada dalam lindungan-Nya. Amin.